Mengenang Pesepak Bola Hebat Striker Timnas Indonesia Dari Masa Ke Masa

Striker Timnas Indonesia

Menjadi Striker Timnas Indonesia juga menjadi kehormatan bagi seorang pesepak bola khususnya. Pasalnya, dengan menjadi striker maka berkesempatan memberikan serangan serangan terbaik terhadap lawan, guna membobol gawang lawan. Namun, tidaklah mudah menduduki posisi ini. Siapa sajakah striker Timnas yang pernah menorehkan tinta emasnya. Berikut ini rangkumanya.

1. Ramang

Pria bernama lengkap Andi Ramang atau yang akrab disapa dengan nama Ramang, merupakan seorang pesepak  bola kebanggan Timnas. Ramang terlahir pada tanggal 24 April tahun 1928. Mengawali karir  di Timnas pada tahun 1900-an membuat dirinya menjadi kebanggan keluarga dan juga teman temanya.

Pada awal bergabung bersama timnas, Ramang memegang kendali sebagai bek. Dikarenakan permainan dengan posisi bek yang kurang memuaskan, membuat Ramang dipindahkan ke posisi penyerang atau striker. Nah, perpindahan kedudukan inilah yang akhirnya mengantarkan Ramang menjadi seorang  Legenda Striker Timnas .

2. Sucipto Suntoro

Memasuki tahun 1960-an bakat – bakat muda kian tumbuh menjadi dewasa, tokoh dalam lapangan juga berganti dengan wajah wajah baru. Salah satunya adalah Sucipto, yang merupakan salah satu master sepak bola Indonesia. Gelar master tidaklah diberikan secara cuma-cuma melainkan melalui proses yang panjang.

Dengan keyakinan dan kemampuanya yang terus diasah Sucipto memecahkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak. Dalam kurun waktu 1965-1979 sebanyak 57 gol dapat dirinya berikan terhadap tanah airnya. Sucipto bermain sepak bola semenjak masih remaja.  Di usianya yang baru 16 tahun dirinya memperkuat Persija.

3. Risdianto

Memasuki tahun 1970 an setelah banyak pesepak bola berbakat andalan timnas yang mulai pensiun. Risdianto memulai kiprahnya bersama Timnas yang tentunya juga lebih hebat. Pada pertandingan tanggal 20 Juni 1972 Risdianto mampu mencetak poin 2-3 saat bertemu Pele di Senayan. Pertemuanku dengan Pele merupakan kesempatan emas yang berharga untuk membuktikan kemampuannya.

4. Ricky Yakobi

Sewaktu menekuni dunia sepak bola Ricky Yakobi merupakan salah satu striker Timnas Indonesia pada era 1980-an. Pencapaian tertingginya bersama Timnas Indonesia adalah dengan berhasil meraih gelar juara pada ajang SEA Games tahun 1987. Pada ajang tersebut tim merah putih dipertemukan dengan Myanmar dan berhasil mencetak gol 4-1.

Ricky Yakobi selain merasakan nikmatnya bermain dalam negeri sendiri, dirinya sempat bermain bersama klub luar negeri. Kesempatan bermain bersama klub asal Jepang, tidak datang begitu saja. melainkan melalui perantara, ajang Asian Games tahun 1986. Dimana Ricky Yakobi membungkam selur penonton dengan gol indahnya yang membobol gawang Uni Emirat Arab.

5. Bambang Nurdiansyah

Memperkuat Timnas Indonesia semenjak masih junior membuat karirnya merambat hingga menjadi Striker Timnas senior. Pria yang akrab disapa dengan nama Baru ini mengabdikan diri selama kurang lebih 11 tahun kepada Timnas Indonesia.

Setelah memasuki usia pensiun, Banur memutuskan menjadi pelatih sepak bola. Tujuan terbesar hidupnya adalah membentuk bibit bibit unggul yang mampu membawa sepak bola Indonesia semakin maju. Selain itu, dirinya belum bisa melepaskan lapangan hijau begitu saja seusai pensiun, alias masih belum move on.

6. Boaz Solossa

Kalau yang satu ini pastilah banyak yang tahu, pria gagah bernama lengkap Boaz Theofilius Solossa atau disapa dengan nama Boas. Mengawali karir di dunia sepak bola pada ajang AFF 2004, yang kala itu bermain untuk Timnas Indonesia. Tidak butuh lama, bagi pemuda dengan permainan bola yang baik ini merebut perhatian.

Bahkan karena kedudukan  sebagai Striker Timnas Indonesia yang dilakukan sangat baik, membuatnya mendapatkan julukan Bochi. Julukan yang disematkan kepadanya karena di usianya yang belum genap 20 tahun mampu menaklukan lawan. Tak heran bila dirinya disebut mutiara dari timur.

Beberapa tokoh tadi merupakan sebagian kecil dari jutaan pemuda berbakat Indonesia. Menjadi Striker Timnas Indonesia bukanlah semata mata untuk ketenaran saja. tapi harus ada harga yang dibayar atas nama bangsa.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *